Sabtu, 05 April 2014

Warna Indonesia



MTs Makara - Sebagai bentuk penghargaan terhadap budaya yang ada di Jawa khususnya, dan aktualisasi mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan (SBK). Kamis, 3 April 2014 kemarin, siswa kelas IX MTs Ma’arif Karangan melaksanakan rangkaian ujian praktek yaitu menyajikan nasi tumpeng. Walaupun mereka harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, tetapi semangat dan kebersamaan justru memacu kreasi mereka untuk membuat yang terbaik. Dan mungkin tulisan ini bisa memberikan informasi mengenai nasi tumpeng yang sudah menjadi cirri khas masyarakat di Jawa

Meskipun tradisi tumpeng telah ada jauh sebelum masuknya Islam ke pulau Jawa, tradisi tumpeng pada perkembangannya diadopsi dan dikaitkan dengan filosofi Islam Jawa, dan dianggap sebagai pesan leluhur mengenai permohonan kepada Yang Maha Kuasa. Dalam tradisi kenduri Slametan pada masyarakat Islam tradisional Jawa, tumpeng disajikan dengan sebelumnya digelar pengajian Al Quran. Menurut tradisi Islam Jawa, "Tumpeng" merupakan akronim dalam bahasa Jawa : yen metu kudu sing mempeng (bila keluar harus dengan sungguh-sungguh). Lengkapnya, ada satu unit makanan lagi namanya "Buceng", dibuat dari ketan; akronim dari: yen mlebu kudu sing kenceng (bila masuk harus dengan sungguh-sungguh) Sedangkan lauk-pauknya tumpeng, berjumlah 7 macam, angka 7 bahasa Jawa pitu, maksudnya Pitulungan (pertolongan). Tiga kalimat akronim itu, berasal dari sebuah doa dalam surah al Isra' ayat 80: "Ya Tuhan, masukanlah aku dengan sebenar-benarnya masuk dan keluarkanlah aku dengan sebenar-benarnya keluar serta jadikanlah dari-Mu kekuasaan bagiku yang memberikan pertolongan". Menurut beberapa ahli tafsir, doa ini dibaca Nabi Muhammad SAW waktu akan hijrah keluar dari kota Mekah menuju kota Madinah. Maka bila seseorang berhajatan dengan menyajikan Tumpeng, maksudnya adalah memohon pertolongan kepada Yang Maha Pencipta agar kita dapat memperoleh kebaikan dan terhindar dari keburukan, serta memperoleh kemuliaan yang memberikan pertolongan. Dan itu semua akan kita dapatkan bila kita mau berusaha dengan sungguh-sungguh.(Wikipedia.com)

Tumpeng merupakan bagian penting dalam perayaan kenduri tradisional. Perayaan atau kenduri adalah wujud rasa syukur dan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa atas melimpahnya hasil panen dan berkah lainnya. Karena memiliki nilai rasa syukur dan perayaan, hingga kini tumpeng sering kali berfungsi menjadi kue ulang tahun dalam perayaan pesta ulang tahun.

Dalam kenduri, syukuran, atau slametan, setelah pembacaan doa, tradisi tak tertulis menganjurkan pucuk tumpeng dipotong dan diberikan kepada orang yang paling penting, paling terhormat, paling dimuliakan, atau yang paling dituakan di antara orang-orang yang hadir. Ini dimaksudkan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang tersebut. Kemudian semua orang yang hadir diundang untuk bersama-sama menikmati tumpeng tersebut. Dengan tumpeng masyarakat menunjukkan rasa syukur dan terima kasih kepada Allah SWT sekaligus merayakan kebersamaan dan kerukunan.

Sabtu, 15 Maret 2014

Selamatkan Bumi dari Pencemaran Udara

MTs Makara - (Oleh: Nanda-Riski kelas VIIA) Pencemaran udara telah sampai ke level menghawatirkan, pencemaran yang berasal dari asap kendaraan bermotor, ataupun asap dari pabrik. Semua itu adalah gas yang sangat berbahaya dapat merusak ozon/ atmosfer. Akibatnya bumi semakin terasa panas dan dapat mengakibatkan efek rumah kaca, seperti saat inipun kita sudah mulai merasakan dampak efek rumah kaca tersebut. 
Selain itu, dampak yang di akibatkan pencemaran udara adalah gangguan pernafasan pada manusia ataupun mahluk hidup lainnya, dan dapat memicu kangker paru-paru dan bahkan berakibat pada kematian. Seharusnya manusia menyadari pentingnya mengurangi polusi tersebut. Yaitu dengan cara membuat kendaraan ramah lingkungan, seperti kendaraan bertenaga listrik. Selain cara itu manusia juga dapat mengurangi dampak pencemaran udara dengan penanaman hutan kembali atau reboisasi. 
Hutan Indonesia dari sampai tahun 2014 ini mengalami penurunan secara drastis hal itu di sebabkan oleh kebakaran hutan, pembukaan lahan baru,penebangan liar,dan sebagainya. Seperti saat ini kebakaran hutan terjadi di provinsi Riau, yang menyebabkan pencemaran udara sampai ke level berbahanya. Oleh sebab itu mulailah dari kita sendiri  harus melakukan tindakan nyata mengurangi pencemaran udara.......

Rabu, 15 Januari 2014

Perlukah Memperingati Maulid Nabi?

MTs Makara - Ada sekelompok kecil umat Islam berpendapat bahwa merayakan hari kelahiran Nabi SAW adalah bid’ah tercela, bahkan dituduh haram, dengan alasan Nabi SAW tidak pernah melakukan dan tidak ada hadits shahih yang menganjurkan. “Benarkah pendapat seperti ini, dan perlukah pendapat ini diikuti?”

KH Ma’ruf Asrori mengawali ceramahmya itu pada Peringatan Maulid Nabi Saw yang diselenggarakan Jam’iyyah Al-Islah Jemurwonosari Surabaya, Ahad (12/1)

“Seandainya Nabi Saw. memang tidak pernah merayakan hari kelahirannya, dan tidak ada hadits shahih yang secara tekstual menganjurkan merayakan Maulid, maka hal ini tidak serta merta menjadi alasan untuk mengharamkan Maulid Nabi Saw. dan menganggapnya sebagai bid’ah yang tercela,” kata Kiai Ma’ruf.

Menurutnya, umat Islam juga mempertimbangkan dalil-dalil agama yang lain, seperti Qiyas, Ijma’ dan pemahaman secara kontekstual terhadap dalil-dalil syar’i. Karena itu, meskipun telah dimaklumi bahwa Nabi Saw. tidak pernah merayakan Maulid dan tidak ada hadits shahih yang secara tekstual menganjurkan Maulid, para ulama fuqaha dan ahli hadits dari berbagai madzhab tetap menganggap baik dan menganjurkan perayaan Maulid Nabi Saw.
“Peringatan Mailid Nabi juga didasarkan pada pemahaman secara kontekstual (istinbath/ijtihad) terhadap dalil-dalil al-Qur’an dan hadits,” katanya.

Di antara ayat al-Qur’an yang menjadi dasar perayaan maulid adalah: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. al-Anbiya’ : 107) dan ayat “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.” (QS. Yunus : 58).

Nabi Muhammad SAW sendiri mengagungkan hari kelahirannya dengan puasa, sebagaimana hadis, “Dari Abu Qatadah ra., sesungguhnya Rasulullah SAW telah ditanya perihal puasa hari Senin, beliau bersabda: “Pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu pula wahyu diturunkan.” (HR. Muslim) 

Ayat di atas memerintahkan kita agar bergembira dengan karunia Allah dan rahmat-Nya yang diberikan kepada kita. Sahabat Ibnu Abbas ketika menafsirkan ayat tersebut berkata: “Karunia Allah adalah ilmu agama, sedangkan rahmat-Nya adalah Muhammad SAW.” Dari sini dapatlah disimpulkan, bahwa merayakan hari kelahiran Nabi SAW merupakan pengejawantahan dari ayat dan hadits di atas yang memerintahkan kita bergembira dengan rahmat Allah.

“Hal ini secara implisit memuat arti perayaan itu sendiri. Hanya saja cara mengungkapkannya berbeda, namun maksud dan tujuannya tetap sama. Artinya bisa dengan puasa, menjamu makanan, berkumpul guna berdzikir, bershalawat atas Nabi SAW, ataupun menyimak perangainya yang mulia.,” demikian KH Ma’ruf Asrori yang juga penasehat Jam’iyyah Al-Islah sambil mengetengahkan ayat al-Qur’an dan hadits nabi yang mendasarinya.

Pemahaman seperti ini perlu diketengahkan. “Peringatan maulid Nabi yang setiap tahunnya diadakan tidak sekedar seremonial belaka, tapi juga di-ilmiahi agar bernilai ibadah, dalam rangka mensyukuri rahmat Allah SWT dan menunjukkan kecintaan kita terhadap Rasulullah.

”Apalagi kalau dilihat acaranya sungguh padat dengan ibadah, seperti membaca al-Qur’an, shalawat, istighotsah dan ceramah sekitar akhlak Nabi yang perlu kita teladani, seperti akhlak beliau menjadi kepala keluarga, menerima tamu, dengan tetangga, menghadapi musuhnya dan posisinya sebagai kepala negara,” ungkapnya di tengah ratusan warga nahdliyin. (http://www.nu.or.id)

Kamis, 09 Januari 2014

Nikmati Udara Sejuk Di Atas Jembatan Galau Hutan Mangrove

MTs Makara – Liburan semester telah usai, bagaimana dengan liburan kalian? Ke rumah nenek..Ke Pantai…atau keluar angkasa?? Banyak pastinya  cerita-cerita seru yang akan kalian ceritakan kepada teman-temanmu di sekolah. Supaya blog ini juga nggak aklah seru, penulis akan cerita sedikit tentang liburan kemarin.

Oh ya..mungkin kalian sudah tahu banyak tempat-tempat wisata yang wajib dikunjungi selama liburan. Kalau kemarin kita sudah rame-rame jalan-jalan ke daerah Panggul yang disana ada Pantai Pelang, Pantai Kili-Kili, atau Pantai Konang. Apalagi ada momen tahun baru yang tentunya akan lebih berkesan jika kalian nikmati dengan berwisata ke Guo Lowo, Pantai Prigi, Pantai Simbaronce atau Pantai Pasir Putih Karanggongso yang sudah terkenal sampai luar daerah.

 Masih satu kawasan yaitu di kecamatan Watulimo, ada tempat berwisata yang sangat berbeda dari biasanya sekaligus memberikan pengetahuan kepada kita untuk peduli menjaga kelestarian lingkungan. Bener banget, Tempat Pelestarian Kejung Samudra dan tanaman Mangrove Pantai Cengkrong. Ada sekitar setengah hectare lebih lahan yang khusus ditanami  berbagai jenis Mangrove.  Dan tahu nggah sih, apa tanaman Mangrove ini??? Baca terus ya tulisannya!

Mangrove adalah jenis tanaman dikotil yang hidup di habitat payau. Tanaman dikotil adalah tumbuhan yang buahnya berbiji berbelah dua. Pohon mangga adalah contoh pohon dikotil dan contoh tanaman monokotil adalah pohon kelapa. Kelompok pohon di daerah mangrove bisa terdiri atas suatu jenis pohon tertentu saja atau sekumpulan komunitas pepohonan yang dapat hidup di air asin. Hutan mangrove biasa ditemukan di sepanjang pantai daerah tropis dan subtropis, antara 32° Lintang Utara dan 38° Lintang Selatan.

Hutan mangrove merupakan ekosistem yang kompleks terdiri atas flora dan fauna daerah pantai, hidup sekaligus di habitat daratan dan air laut, antara batas air pasang dan surut. Berperan dalam melindungi garis pantai dari erosi, gelombang laut dan angin topan. Tanaman mangrove berperan juga sebagai buffer (perisai alam) dan menstabilkan tanah dengan menangkap dan memerangkap endapan material dari darat yang terbawa air sungai dan yang kemudian terbawa ke tengah laut oleh arus.

Hutan mangrove tumbuh subur dan luas di daerah delta dan aliran sungai yang besar dengan muara yang lebar. Di pantai yang tidak ada sungainya, daerah mangrovenya sempit. Hutan mangrove mempunyai toleransi besar terhadap kadar garam dan dapat berkembang di daratan bersalinitas tinggi di mana tanaman biasa tidak dapat tumbuh.

Istilah mangrove tidak selalu diperuntukkan bagi kelompok spesies dengan klasifikasi taksonomi tertentu saja, tetapi dideskripsikan mencakup semua tanaman tropis yang bersifat halophytic atau toleran terhadap garam. Tanaman yang mampu tumbuh di tanah basah lunak, habitat air laut dan terkena fluktuasi pasang surut. Sebagai tambahan, tanaman tersebut mempunyai cara reproduksi dengan mengembangkan buah vivipar yang bertunas (seed germination) semasa masih berada pada pohon induknya.


Jumat, 08 November 2013

Gebyar Muharrom


MTs Makara – Menyambut datangnya tahun baru Islam satu Muharam 1435 H, Forum Silaturrohim (FOSI) Ustad dan Ustadzah TPA dan TPQ serta Madrasah Diniyah se-Kecamatan Karangan menggelar pawai ta’aruf atau gebyar Muharrom (05/11/2013). Ratusan santri dari TPA dan TPQ unjuk gigi dengan menampilkan berbagai  seni Islami layaknya peringatan tujuhbelasan.
Acara yang juga dihadiri langsung oleh Camat Karangan Hari Andiko tersebut berlangsung sangat meriah, mulai seni hadrah, rodad dibawakan dengan cukup menarik oleh peserta. Memang acara tahunan seperti ini sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Jadi tidak heran kalau di sepanjang rute pawai ini dipenuhi oleh banyak penonton.
Seperti tahun lalu, dalam pawai Muharrom tahun ini MTs Ma’arif Karangan menampilkan Drum Band andalan masrasah “Nasyida Buana”. Dengan penuh semangat tim ini memainkan beberapa lagu untuk menghibur masyarakat yang sudah hadir di Lapangan Karangan pagi itu. Sukses.
Ketua FOSI Karangan Farid mengatakan, acara seperti ini menjadi agenda tahunan agar masyarakat khususnya umat muslim lebih bias memaknai tahun baru Islam, jadi tidak hanya bersuka cita ketika merayakan tahun baru masehi tetapi juga tahun baru Islam.