Jumat, 18 Juli 2014

Bagi Takjil Gratis dan Do'a Untuk Palestina

Makara (18/07/2014) – Untuk mengisi bulan Romadlon tahun ini dengan kegiatan-kegiatan positif, kembali MTs Ma’arif Karangan berbagi takjil gratis. Kegiatan yang bertemakan “BAGI TAKJIL GRATIS DAN DO’A UNTUK PALESTINA” tersebut dilaksanakan Kamis, 17 Juli 2014 kemarin  di seputaran pertigaan desa Jati dan perempatan Karangan pukul empat sore menjelang berbuka puasa. Walaupun dalam kondisi berpuasa siswa-siswi MTs Ma’arif Karangan diwakili anggota OSMAKARA (OSIS MTs Ma’arif Karangan) tak merasa lelah  membagi-bagikan takjil gratis kepada masyarakat  Karangan dan sekitarnya yang sedang ngabuburit serta para pengguna jalan.

“Ini amanah dari teman-teman, walaupun lagi puasa tapi seneng aja kita bagi-bagi takjil kepada orang-orang disini”, kata Ahmad Samroni siswa kelas IX yang juga masih menjabat ketua OSIS ini. 

Kegiatan yang sudah menjadi agenda tahunan ini disambut antusias semua siswa-siswi MTs Ma’arif Karangan, terbukti mereka semangat sekali berpartisipasi ketika sebelumnya dilakukan penggalangan dana untuk pembuatan takjil.

Kepala Madrasah bapak Drs. H. Sukarodin, M.Ag mengaku sangat senang dengan kepedulian anak-anak MTs Ma’arif Karangan untuk saling berbagi di bulan suci Romadlon ini. Ini merupakan langkah awal yang luar biasa, ditengah keterbatasan ternyata siswa-siswi MTs Ma’arif ini masih memiliki kepedulian dengan orang lain.

Kegiatan bagi takjil gratis ini merupakan rangkaian kegiatan Pondok Romadhon yang akan ditutup dengan buka bersama besok. Tak lupa panitia bagi takjil gratis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua teman-teman, Bapak/ Ibu guru, pihak-pihak yang telah mendonasikan sebagian uang saku (he..he..he..) atau pun bantuan tenaga. Semoga selalu mendapatkan rahmat dari Alloh  SWT, dan ini menjadi salah satu sumber pahala di bulan Ramadlon bagi kita semua. Dan semoga do’a-do’a kita dijawab oleh Alloh SWT untuk saudara kita di Palestina yang mendambakan kedamaian. Amin.
SAMPAI JUMPA DI BULAN ROMADLON TAHUN DEPAN..BRAVO MAKARA....


Rabu, 16 Juli 2014

Kurikulum Baru Untuk Siswa Baru

Makara (16/07/2014) - Memasuki tahun pelajaran 2014/ 2015, MTs Ma'arif Karangan sudah melakukan berbagai persiapan untuk menerapkan kurikulum 2013 khusus untuk kelas VII.
Karena berada pada bulan Ramadhan, pelaksanaan Masa Orientasi Siswa (MOS) dilaksanakan hanya dua hari. Materi yang disampaikan lebih mengarah kepada pengenalan madrasah. Kepala Madrasah Tsanawiyah Ma'arif Karangan melalui Wakil Kepala Kurikulum, bapak Sama'in, S,Ag mengatakan bahwa diharapkan siswa baru bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan MTs Ma'arif Karangan. Dan mereka mampu berprestasi baik dibidang akademik maupun non akademik.

Dalam mengimplementasikan kurikulum, yang jauh lebih penting adalah guru sebagai ujung tombak bahkan bisa menjadi ujung tombok serta garda terdepan dalam pelaksanakan kurikulum. Oleh karena itu betapa pentingnya kesiapan guru dalam mengimplementasikan kurikulum itu selain kompetensi, komitmen dan tanggung jawabnya serta kesejahteraannya yang harus terjaga. Kompetensi guru bukan saja menguasai apa yang harus dibelajarkan (content) tapi bagaimana membelajarkan siswa yang menantang, menyenangkan, memotivasi, menginspirasi dan memberi ruang kepada siswa untuk melakukan keterampilan proses yaitu mengobservasi, bertanya, mencari tahu, merefleksi  sebagaimana dinyatakan filosof Betrand Russel “More important than the curriculum is the question of the methods of teaching and the spirit in which the teaching is given”. 
 
Kurikulum penting, tetapi yang tak kalah pentingnya juga adalah bagaimana strategi membelajarkan dan spiritnya. Dengan strategi pembelajaran yang tepat dalam mengimplementasikan kurikulum disertai dengan  spirit pendidikan yang selalu menggelora  pada setiap guru atau pendidik dan peserta  didik, maka proses pendidikan itu sendiri tidak terlepas dari rohnya. Sebuah kata bijak mengatakan bahwa “At-Thariqatu Afdalu Minal Mad” (Metodologi tidak kalah pentingnya dibanding substansi). Betapapun baiknya kurikulum yang telah dikembangkan, buku pelajaran dan media pembelajaran disediakan serta dilaksanakan  Diklat baik Kepala Sekolah, Pengawas, Guru Inti, Guru Pelatih maupun Diklat guru secara massal pada akhirnya berpulang kepada ada tidaknya kemauan untuk berubah (willingness to change) dari  para pemangku kepentingan utama pendidikan tersebut. Semoga siap untuk berubah.

Selasa, 03 Juni 2014

Wisuda Angkatan ke XXIV MTs Makara

MTs Makara – Kamis, 29 Mei 2014 sebanyak 56 siswa-siswi MTs Ma’arif Karangan telah diwisuda. Diawali dengan penampilan seni Islami dan tari kreasi “Pesisir Nusantara”  dari ekstrakurikuler yang ada di madrasah ini, acara wisuda tersebut berlangsung sangat khidmat. Apalagi juga dihadiri langsung oleh para pengurus yayasan dan dewan pembina madrasah yang diketuai KH. Mastur Ali..
Dalam sambutannya kepala madrasah, Drs. H. Sukarodin, M.Ag berpesan kepada para wisudawan agar tetap menjaga almamater madrasah. Selain itu beliau meminta kepada mereka untuk memotivasi adik-adik kelas mereka untuk memilih MTs Ma’arif sebagai tempat melanjutkan sekolah untuk tingkat menengah pertama. Dan harapan besar juga diungkapkan agar pada pengumunan kelulusan Ujian Nasional bulan 12 Juni nanti semua siswa kelas IX lulus seratus persen.
Dalam uraian ilmiahnya, KH. Mastur Ali juga mengungkapkan beberapa hal termasuk perlunya motivasi orang tua dalam memilih tempat putra-putrinya mendapatkan pendidikan yang baik salah satunya di MTs Ma’arif Karangan.
Dalam prosesi wisuda tersebut juga diberikan penghargaan kepada siswa yang masuk 10 (sepuluh) besar peraih terbaik nilai Ujian Akhir Madrasah dan Izza Nahaarin putri Bapak Chomarudin berhasil mendapatkan nilai rata-rata UAM tertinggi untuk tahun ini, diurutan kedua ada Kiki Rizki Fauziatul Jannah dan diurutan ketiga adalah Ibnu Musthofa.
Di akhir acara para tamu undangan semakin terhibur dengan tampilnya anak-anak teater CUBLAK SUWENG yang menampilkan parodi ‘Ratapan Bawang Putih dan Peri Yang Tersesat”.  Sukses  Makara !!

Sabtu, 05 April 2014

Warna Indonesia



MTs Makara - Sebagai bentuk penghargaan terhadap budaya yang ada di Jawa khususnya, dan aktualisasi mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan (SBK). Kamis, 3 April 2014 kemarin, siswa kelas IX MTs Ma’arif Karangan melaksanakan rangkaian ujian praktek yaitu menyajikan nasi tumpeng. Walaupun mereka harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, tetapi semangat dan kebersamaan justru memacu kreasi mereka untuk membuat yang terbaik. Dan mungkin tulisan ini bisa memberikan informasi mengenai nasi tumpeng yang sudah menjadi cirri khas masyarakat di Jawa

Meskipun tradisi tumpeng telah ada jauh sebelum masuknya Islam ke pulau Jawa, tradisi tumpeng pada perkembangannya diadopsi dan dikaitkan dengan filosofi Islam Jawa, dan dianggap sebagai pesan leluhur mengenai permohonan kepada Yang Maha Kuasa. Dalam tradisi kenduri Slametan pada masyarakat Islam tradisional Jawa, tumpeng disajikan dengan sebelumnya digelar pengajian Al Quran. Menurut tradisi Islam Jawa, "Tumpeng" merupakan akronim dalam bahasa Jawa : yen metu kudu sing mempeng (bila keluar harus dengan sungguh-sungguh). Lengkapnya, ada satu unit makanan lagi namanya "Buceng", dibuat dari ketan; akronim dari: yen mlebu kudu sing kenceng (bila masuk harus dengan sungguh-sungguh) Sedangkan lauk-pauknya tumpeng, berjumlah 7 macam, angka 7 bahasa Jawa pitu, maksudnya Pitulungan (pertolongan). Tiga kalimat akronim itu, berasal dari sebuah doa dalam surah al Isra' ayat 80: "Ya Tuhan, masukanlah aku dengan sebenar-benarnya masuk dan keluarkanlah aku dengan sebenar-benarnya keluar serta jadikanlah dari-Mu kekuasaan bagiku yang memberikan pertolongan". Menurut beberapa ahli tafsir, doa ini dibaca Nabi Muhammad SAW waktu akan hijrah keluar dari kota Mekah menuju kota Madinah. Maka bila seseorang berhajatan dengan menyajikan Tumpeng, maksudnya adalah memohon pertolongan kepada Yang Maha Pencipta agar kita dapat memperoleh kebaikan dan terhindar dari keburukan, serta memperoleh kemuliaan yang memberikan pertolongan. Dan itu semua akan kita dapatkan bila kita mau berusaha dengan sungguh-sungguh.(Wikipedia.com)

Tumpeng merupakan bagian penting dalam perayaan kenduri tradisional. Perayaan atau kenduri adalah wujud rasa syukur dan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa atas melimpahnya hasil panen dan berkah lainnya. Karena memiliki nilai rasa syukur dan perayaan, hingga kini tumpeng sering kali berfungsi menjadi kue ulang tahun dalam perayaan pesta ulang tahun.

Dalam kenduri, syukuran, atau slametan, setelah pembacaan doa, tradisi tak tertulis menganjurkan pucuk tumpeng dipotong dan diberikan kepada orang yang paling penting, paling terhormat, paling dimuliakan, atau yang paling dituakan di antara orang-orang yang hadir. Ini dimaksudkan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang tersebut. Kemudian semua orang yang hadir diundang untuk bersama-sama menikmati tumpeng tersebut. Dengan tumpeng masyarakat menunjukkan rasa syukur dan terima kasih kepada Allah SWT sekaligus merayakan kebersamaan dan kerukunan.

Sabtu, 15 Maret 2014

Selamatkan Bumi dari Pencemaran Udara

MTs Makara - (Oleh: Nanda-Riski kelas VIIA) Pencemaran udara telah sampai ke level menghawatirkan, pencemaran yang berasal dari asap kendaraan bermotor, ataupun asap dari pabrik. Semua itu adalah gas yang sangat berbahaya dapat merusak ozon/ atmosfer. Akibatnya bumi semakin terasa panas dan dapat mengakibatkan efek rumah kaca, seperti saat inipun kita sudah mulai merasakan dampak efek rumah kaca tersebut. 
Selain itu, dampak yang di akibatkan pencemaran udara adalah gangguan pernafasan pada manusia ataupun mahluk hidup lainnya, dan dapat memicu kangker paru-paru dan bahkan berakibat pada kematian. Seharusnya manusia menyadari pentingnya mengurangi polusi tersebut. Yaitu dengan cara membuat kendaraan ramah lingkungan, seperti kendaraan bertenaga listrik. Selain cara itu manusia juga dapat mengurangi dampak pencemaran udara dengan penanaman hutan kembali atau reboisasi. 
Hutan Indonesia dari sampai tahun 2014 ini mengalami penurunan secara drastis hal itu di sebabkan oleh kebakaran hutan, pembukaan lahan baru,penebangan liar,dan sebagainya. Seperti saat ini kebakaran hutan terjadi di provinsi Riau, yang menyebabkan pencemaran udara sampai ke level berbahanya. Oleh sebab itu mulailah dari kita sendiri  harus melakukan tindakan nyata mengurangi pencemaran udara.......

Rabu, 15 Januari 2014

Perlukah Memperingati Maulid Nabi?

MTs Makara - Ada sekelompok kecil umat Islam berpendapat bahwa merayakan hari kelahiran Nabi SAW adalah bid’ah tercela, bahkan dituduh haram, dengan alasan Nabi SAW tidak pernah melakukan dan tidak ada hadits shahih yang menganjurkan. “Benarkah pendapat seperti ini, dan perlukah pendapat ini diikuti?”

KH Ma’ruf Asrori mengawali ceramahmya itu pada Peringatan Maulid Nabi Saw yang diselenggarakan Jam’iyyah Al-Islah Jemurwonosari Surabaya, Ahad (12/1)

Seandainya Nabi Saw. memang tidak pernah merayakan hari kelahirannya, dan tidak ada hadits shahih yang secara tekstual menganjurkan merayakan Maulid, maka hal ini tidak serta merta menjadi alasan untuk mengharamkan Maulid Nabi Saw. dan menganggapnya sebagai bid’ah yang tercela,” kata Kiai Ma’ruf.

Menurutnya, umat Islam juga mempertimbangkan dalil-dalil agama yang lain, seperti Qiyas, Ijma’ dan pemahaman secara kontekstual terhadap dalil-dalil syar’i. Karena itu, meskipun telah dimaklumi bahwa Nabi Saw. tidak pernah merayakan Maulid dan tidak ada hadits shahih yang secara tekstual menganjurkan Maulid, para ulama fuqaha dan ahli hadits dari berbagai madzhab tetap menganggap baik dan menganjurkan perayaan Maulid Nabi Saw.
“Peringatan Mailid Nabi juga didasarkan pada pemahaman secara kontekstual (istinbath/ijtihad) terhadap dalil-dalil al-Qur’an dan hadits,” katanya.

Di antara ayat al-Qur’an yang menjadi dasar perayaan maulid adalah: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. al-Anbiya’ : 107) dan ayat “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.” (QS. Yunus : 58).

Nabi Muhammad SAW sendiri mengagungkan hari kelahirannya dengan puasa, sebagaimana hadis, “Dari Abu Qatadah ra., sesungguhnya Rasulullah SAW telah ditanya perihal puasa hari Senin, beliau bersabda: “Pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu pula wahyu diturunkan.” (HR. Muslim) 

Ayat di atas memerintahkan kita agar bergembira dengan karunia Allah dan rahmat-Nya yang diberikan kepada kita. Sahabat Ibnu Abbas ketika menafsirkan ayat tersebut berkata: “Karunia Allah adalah ilmu agama, sedangkan rahmat-Nya adalah Muhammad SAW.” Dari sini dapatlah disimpulkan, bahwa merayakan hari kelahiran Nabi SAW merupakan pengejawantahan dari ayat dan hadits di atas yang memerintahkan kita bergembira dengan rahmat Allah.

“Hal ini secara implisit memuat arti perayaan itu sendiri. Hanya saja cara mengungkapkannya berbeda, namun maksud dan tujuannya tetap sama. Artinya bisa dengan puasa, menjamu makanan, berkumpul guna berdzikir, bershalawat atas Nabi SAW, ataupun menyimak perangainya yang mulia.,” demikian KH Ma’ruf Asrori yang juga penasehat Jam’iyyah Al-Islah sambil mengetengahkan ayat al-Qur’an dan hadits nabi yang mendasarinya.

Pemahaman seperti ini perlu diketengahkan. “Peringatan maulid Nabi yang setiap tahunnya diadakan tidak sekedar seremonial belaka, tapi juga di-ilmiahi agar bernilai ibadah, dalam rangka mensyukuri rahmat Allah SWT dan menunjukkan kecintaan kita terhadap Rasulullah.

”Apalagi kalau dilihat acaranya sungguh padat dengan ibadah, seperti membaca al-Qur’an, shalawat, istighotsah dan ceramah sekitar akhlak Nabi yang perlu kita teladani, seperti akhlak beliau menjadi kepala keluarga, menerima tamu, dengan tetangga, menghadapi musuhnya dan posisinya sebagai kepala negara,” ungkapnya di tengah ratusan warga nahdliyin. (http://www.nu.or.id)