Sabtu, 15 Maret 2014

Selamatkan Bumi dari Pencemaran Udara

MTs Makara - (Oleh: Nanda-Riski kelas VIIA) Pencemaran udara telah sampai ke level menghawatirkan, pencemaran yang berasal dari asap kendaraan bermotor, ataupun asap dari pabrik. Semua itu adalah gas yang sangat berbahaya dapat merusak ozon/ atmosfer. Akibatnya bumi semakin terasa panas dan dapat mengakibatkan efek rumah kaca, seperti saat inipun kita sudah mulai merasakan dampak efek rumah kaca tersebut. 
Selain itu, dampak yang di akibatkan pencemaran udara adalah gangguan pernafasan pada manusia ataupun mahluk hidup lainnya, dan dapat memicu kangker paru-paru dan bahkan berakibat pada kematian. Seharusnya manusia menyadari pentingnya mengurangi polusi tersebut. Yaitu dengan cara membuat kendaraan ramah lingkungan, seperti kendaraan bertenaga listrik. Selain cara itu manusia juga dapat mengurangi dampak pencemaran udara dengan penanaman hutan kembali atau reboisasi. 
Hutan Indonesia dari sampai tahun 2014 ini mengalami penurunan secara drastis hal itu di sebabkan oleh kebakaran hutan, pembukaan lahan baru,penebangan liar,dan sebagainya. Seperti saat ini kebakaran hutan terjadi di provinsi Riau, yang menyebabkan pencemaran udara sampai ke level berbahanya. Oleh sebab itu mulailah dari kita sendiri  harus melakukan tindakan nyata mengurangi pencemaran udara.......

Rabu, 15 Januari 2014

Perlukah Memperingati Maulid Nabi?

MTs Makara - Ada sekelompok kecil umat Islam berpendapat bahwa merayakan hari kelahiran Nabi SAW adalah bid’ah tercela, bahkan dituduh haram, dengan alasan Nabi SAW tidak pernah melakukan dan tidak ada hadits shahih yang menganjurkan. “Benarkah pendapat seperti ini, dan perlukah pendapat ini diikuti?”

KH Ma’ruf Asrori mengawali ceramahmya itu pada Peringatan Maulid Nabi Saw yang diselenggarakan Jam’iyyah Al-Islah Jemurwonosari Surabaya, Ahad (12/1)

Seandainya Nabi Saw. memang tidak pernah merayakan hari kelahirannya, dan tidak ada hadits shahih yang secara tekstual menganjurkan merayakan Maulid, maka hal ini tidak serta merta menjadi alasan untuk mengharamkan Maulid Nabi Saw. dan menganggapnya sebagai bid’ah yang tercela,” kata Kiai Ma’ruf.

Menurutnya, umat Islam juga mempertimbangkan dalil-dalil agama yang lain, seperti Qiyas, Ijma’ dan pemahaman secara kontekstual terhadap dalil-dalil syar’i. Karena itu, meskipun telah dimaklumi bahwa Nabi Saw. tidak pernah merayakan Maulid dan tidak ada hadits shahih yang secara tekstual menganjurkan Maulid, para ulama fuqaha dan ahli hadits dari berbagai madzhab tetap menganggap baik dan menganjurkan perayaan Maulid Nabi Saw.
“Peringatan Mailid Nabi juga didasarkan pada pemahaman secara kontekstual (istinbath/ijtihad) terhadap dalil-dalil al-Qur’an dan hadits,” katanya.

Di antara ayat al-Qur’an yang menjadi dasar perayaan maulid adalah: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. al-Anbiya’ : 107) dan ayat “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.” (QS. Yunus : 58).

Nabi Muhammad SAW sendiri mengagungkan hari kelahirannya dengan puasa, sebagaimana hadis, “Dari Abu Qatadah ra., sesungguhnya Rasulullah SAW telah ditanya perihal puasa hari Senin, beliau bersabda: “Pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu pula wahyu diturunkan.” (HR. Muslim) 

Ayat di atas memerintahkan kita agar bergembira dengan karunia Allah dan rahmat-Nya yang diberikan kepada kita. Sahabat Ibnu Abbas ketika menafsirkan ayat tersebut berkata: “Karunia Allah adalah ilmu agama, sedangkan rahmat-Nya adalah Muhammad SAW.” Dari sini dapatlah disimpulkan, bahwa merayakan hari kelahiran Nabi SAW merupakan pengejawantahan dari ayat dan hadits di atas yang memerintahkan kita bergembira dengan rahmat Allah.

“Hal ini secara implisit memuat arti perayaan itu sendiri. Hanya saja cara mengungkapkannya berbeda, namun maksud dan tujuannya tetap sama. Artinya bisa dengan puasa, menjamu makanan, berkumpul guna berdzikir, bershalawat atas Nabi SAW, ataupun menyimak perangainya yang mulia.,” demikian KH Ma’ruf Asrori yang juga penasehat Jam’iyyah Al-Islah sambil mengetengahkan ayat al-Qur’an dan hadits nabi yang mendasarinya.

Pemahaman seperti ini perlu diketengahkan. “Peringatan maulid Nabi yang setiap tahunnya diadakan tidak sekedar seremonial belaka, tapi juga di-ilmiahi agar bernilai ibadah, dalam rangka mensyukuri rahmat Allah SWT dan menunjukkan kecintaan kita terhadap Rasulullah.

”Apalagi kalau dilihat acaranya sungguh padat dengan ibadah, seperti membaca al-Qur’an, shalawat, istighotsah dan ceramah sekitar akhlak Nabi yang perlu kita teladani, seperti akhlak beliau menjadi kepala keluarga, menerima tamu, dengan tetangga, menghadapi musuhnya dan posisinya sebagai kepala negara,” ungkapnya di tengah ratusan warga nahdliyin. (http://www.nu.or.id)

Kamis, 09 Januari 2014

Nikmati Udara Sejuk Di Atas Jembatan Galau Hutan Mangrove

MTs Makara – Liburan semester telah usai, bagaimana dengan liburan kalian? Ke rumah nenek..Ke Pantai…atau keluar angkasa?? Banyak pastinya  cerita-cerita seru yang akan kalian ceritakan kepada teman-temanmu di sekolah. Supaya blog ini juga nggak aklah seru, penulis akan cerita sedikit tentang liburan kemarin.

Oh ya..mungkin kalian sudah tahu banyak tempat-tempat wisata yang wajib dikunjungi selama liburan. Kalau kemarin kita sudah rame-rame jalan-jalan ke daerah Panggul yang disana ada Pantai Pelang, Pantai Kili-Kili, atau Pantai Konang. Apalagi ada momen tahun baru yang tentunya akan lebih berkesan jika kalian nikmati dengan berwisata ke Guo Lowo, Pantai Prigi, Pantai Simbaronce atau Pantai Pasir Putih Karanggongso yang sudah terkenal sampai luar daerah.

 Masih satu kawasan yaitu di kecamatan Watulimo, ada tempat berwisata yang sangat berbeda dari biasanya sekaligus memberikan pengetahuan kepada kita untuk peduli menjaga kelestarian lingkungan. Bener banget, Tempat Pelestarian Kejung Samudra dan tanaman Mangrove Pantai Cengkrong. Ada sekitar setengah hectare lebih lahan yang khusus ditanami  berbagai jenis Mangrove.  Dan tahu nggah sih, apa tanaman Mangrove ini??? Baca terus ya tulisannya!

Mangrove adalah jenis tanaman dikotil yang hidup di habitat payau. Tanaman dikotil adalah tumbuhan yang buahnya berbiji berbelah dua. Pohon mangga adalah contoh pohon dikotil dan contoh tanaman monokotil adalah pohon kelapa. Kelompok pohon di daerah mangrove bisa terdiri atas suatu jenis pohon tertentu saja atau sekumpulan komunitas pepohonan yang dapat hidup di air asin. Hutan mangrove biasa ditemukan di sepanjang pantai daerah tropis dan subtropis, antara 32° Lintang Utara dan 38° Lintang Selatan.

Hutan mangrove merupakan ekosistem yang kompleks terdiri atas flora dan fauna daerah pantai, hidup sekaligus di habitat daratan dan air laut, antara batas air pasang dan surut. Berperan dalam melindungi garis pantai dari erosi, gelombang laut dan angin topan. Tanaman mangrove berperan juga sebagai buffer (perisai alam) dan menstabilkan tanah dengan menangkap dan memerangkap endapan material dari darat yang terbawa air sungai dan yang kemudian terbawa ke tengah laut oleh arus.

Hutan mangrove tumbuh subur dan luas di daerah delta dan aliran sungai yang besar dengan muara yang lebar. Di pantai yang tidak ada sungainya, daerah mangrovenya sempit. Hutan mangrove mempunyai toleransi besar terhadap kadar garam dan dapat berkembang di daratan bersalinitas tinggi di mana tanaman biasa tidak dapat tumbuh.

Istilah mangrove tidak selalu diperuntukkan bagi kelompok spesies dengan klasifikasi taksonomi tertentu saja, tetapi dideskripsikan mencakup semua tanaman tropis yang bersifat halophytic atau toleran terhadap garam. Tanaman yang mampu tumbuh di tanah basah lunak, habitat air laut dan terkena fluktuasi pasang surut. Sebagai tambahan, tanaman tersebut mempunyai cara reproduksi dengan mengembangkan buah vivipar yang bertunas (seed germination) semasa masih berada pada pohon induknya.


Jumat, 08 November 2013

Gebyar Muharrom


MTs Makara – Menyambut datangnya tahun baru Islam satu Muharam 1435 H, Forum Silaturrohim (FOSI) Ustad dan Ustadzah TPA dan TPQ serta Madrasah Diniyah se-Kecamatan Karangan menggelar pawai ta’aruf atau gebyar Muharrom (05/11/2013). Ratusan santri dari TPA dan TPQ unjuk gigi dengan menampilkan berbagai  seni Islami layaknya peringatan tujuhbelasan.
Acara yang juga dihadiri langsung oleh Camat Karangan Hari Andiko tersebut berlangsung sangat meriah, mulai seni hadrah, rodad dibawakan dengan cukup menarik oleh peserta. Memang acara tahunan seperti ini sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Jadi tidak heran kalau di sepanjang rute pawai ini dipenuhi oleh banyak penonton.
Seperti tahun lalu, dalam pawai Muharrom tahun ini MTs Ma’arif Karangan menampilkan Drum Band andalan masrasah “Nasyida Buana”. Dengan penuh semangat tim ini memainkan beberapa lagu untuk menghibur masyarakat yang sudah hadir di Lapangan Karangan pagi itu. Sukses.
Ketua FOSI Karangan Farid mengatakan, acara seperti ini menjadi agenda tahunan agar masyarakat khususnya umat muslim lebih bias memaknai tahun baru Islam, jadi tidak hanya bersuka cita ketika merayakan tahun baru masehi tetapi juga tahun baru Islam.

Kamis, 24 Oktober 2013

Berkurban di Hari Raya Idhul Adha


MTs Makara – Seluruh umat muslim di seluruh dunia selalu menyambut dengan penuh suka cita datangnya hari raya Idhul Adha. Selain bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji, momentum Idhul Adha  akan mengingatkan kita akan perjuangan Nabi Ibrahim AS dalam menjaga ketaatannya kepada Allah SWT.

Peristiwa ini memberikan kesan yang mendalam bagi kita. Betapa tidak. Nabi Ibrahim yang telah menunggu kehadiran buah hati selama bertahun-tahun ternyata diuji Tuhan untuk menyembelih putranya sendiri. Nabi Ibrahim dituntut untuk memilih antara melaksanakan perintah Tuhan atau mempertahankan buah hati dengan konsekuensi tidak mengindahkan perintahNya. Sebuah pilihan yang cukup dilematis. Namun karena didasari ketakwaan yang kuat, perintah Tuhanpun dilaksanakan. Dan pada akhirnya, Nabi Ismail tidak jadi disembelih dengan digantikan seekor domba. Legenda mengharukan ini diabadikan dalam al Quran surat al Shaffat ayat 102-109. 

Kisah tersebut merupakan potret puncak kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Nabi Ibrahim mencintai Allah melebihi segalanya, termasuk darah dagingnya sendiri. Kecintaan Nabi Ibrahim terhadap putra kesayangannya tidak menghalangi ketaatan kepada Tuhan. Model ketakwaan Nabi Ibrahim ini patut untuk kita teladani. 

Mts Ma’arif Karangan yang merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam di Trenggalek berupaya untuk mengajak siswa madrasah untuk memaknai  datangnya Idhul Adha, diantaranya dengan belajar menyembelih hewan kurban. Di hari Idul Adha, bagi umat Islam yang mampu dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban. Pada dasarnya, penyembelihan binatang kurban ini mengandung dua nilai yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Kesalehan ritual berarti dengan berkurban, kita telah melaksanakan perintah Tuhan yang bersifat transedental. Kurban dikatakan sebagai kesalehan sosial karena selain sebagai ritual keagamaan, kurban juga mempunyai dimensi kemanusiaan. 

Bentuk solidaritas kemanusiaan ini termanifestasikan secara jelas dalam pembagian daging kurban. Perintah berkurban bagi yang mampu ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang respek terhadap fakir-miskin dan kaum dhu’afa lainnya. Dengan disyari’atkannya kurban, kaum muslimin dilatih untuk mempertebal rasa kemanusiaan, mengasah kepekaan  terhadap masalah-masalah sosial, mengajarkan sikap saling menyayangi terhadap sesama. 

Meski waktu pelaksanaan penyembelihan kurban dibatasi (10-13 Dzulhijjah), namun jangan dipahami bahwa Islam membatasi solidaritas kemanusiaan. Kita harus mampu menangkap makna esensial dari pesan yang disampaikan teks, bukan memahami teks secara literal. Oleh karenanya, semangat untuk terus ’berkurban’ senantiasa kita langgengkan pasca Idul Adha.
Saat ini kerap kita jumpai, banyak kaum muslimin yang hanya berlomba meningkatkan kualitas kesalehan ritual tanpa diimbangi dengan kesalehan sosial. Banyak umat Islam yang hanya rajin shalat, puasa bahkan mampu ibadah haji berkali-kali, namun tidak peduli dengan masyarakat sekitarnya. Sebuah fenomena yang menyedihkan. Mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum untuk meningkatkan dua kesalehan sekaligus yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Selamat berhari raya !
(sumber : www.pesantrenvirtual.com)